Rumah Yang Bernafas

Memiliki rumah yang terbuka, dekat dengan kantor, dan memiliki akses jalan menuju bandara, adalah cita-cita Alvin Lie. Maklum, sebagai seorang politikus, jadwal kerja Alvin setiap hari tergolong padat.

Sebetulnya, selain rumah pribadi di kota asalnya Semarang, Alvin bersama istrinya pernah menempati rumah dinas di komplek DPR.namun tuntutan tugas kerja, yang mengharuskan bolak balik Jakarta-Semarang, akhirnya Alvin membeli rumah singgah di kawasan Pancoran, jakarta selatan. Rumah yang dibeli Alvin berjumlah lima buah. Masing-masing luasnyadi bawah 200m2.

Rupanya Alvin sudah terlanjur jatuh hati saat pertama kali melihatnya. Apalagi, ia sudah tak asing lagi dengan lingkungan sekitar rumah yang tidak terlalu jauh dari rumah dinasnya yang lama. Strategis dan dekat dengan kantor.

“saat membeli rumah itu karena lokasinya strategis, dekat kemana-mana. Lagi pula sertifikat tanah kelimanya sama”ujar ayah tiga anak itu.

Sejak awal melihat rumah itu, di benak Alvin sudah terpikir untuk merombak lima rumah menjadi bangunan baru dua lantai bergaya modern. Sebenarnya kondisi fisik bangunan lama masih bagus, hanya saja layout ruangnya sempit dan tidak beraturan.

Akhirnya setelah resmi memiliki kelima rumah itu, Alvin segera mewujudkan rencana awal: mrenovasi. Untuk merenovasinya, ia meminta bantuan kawannya dari Semarang, Arsitek Widi Cahyadi. Kepada Widi, Alvin berpesan agar rumah yang baru nantinya memiliki banyak jendela, agar terang dan hemat listrik. Proses renovasi total itu berlangsung sekitar satu tahun.

Void dan deretan jendela

Akhir 2009, Alvin bersama keluarga, resmi menempati rumah itu. Konsepnya sederhana, wajah bangunan sengaja dibuat ala kadarnya agar tidak menonjol dibandingkan rumah tetangganya.

Namun ketika masuk rumah, kita akan menemukan kesan lega dan terang. Selain banyak jendela, di ruang keluarga dua void yang cukup besar. Tinggi masing-masing void setinggi 8m.

“dari beberapa gambar kerja yang saya ajukan, Alvin memilih model yang sederhana, namun banyak void dan jendela, seperti rumah yang di Semarang” ujar Widi.

Sama halnya dengan void, deretan jendela dari kusen kayu ditempatkan pada setiap ruang. Rumah terlihat terang dan sejuk. Kala siang, lampu tak banyak digunakan. Listrik jadi hemat.

Dominasi keramik         

Alvin menggunakan keramik pada sebagian besar lantai rumahnya. Alasannya, ia ingin lebih praktis: pemasangan maupun perawatan.

“perawatan keramik itu mudah, kalau kotor tinggal dibersihkan dan dilap. Lagi pula desain keramik lebih bervariasi dan bagus-bagus,” ujarnya.

Untuk menciptakan tampilan ruang yang berbeda, Alvin menggunakan keramik yang bercorak berbeda. Tujuanya, agar setiap ruang memiliki suasana dan tampilan yang berkarakter. Corak yang digunakan antara lain: anyaman bambu, mozaik, dan motif kayu.

Memang kalau anda cermat menempatkan corak, anda bakal mendapatkan tampilandan suasana yang unik, bahkan dapat mengecoh mata. Misalnya keramik yang di lantai ruang santai 3mx2m. Sekilas coraknya mirip anyaman bambu yang asli, namun setelah didekati dan dicermati alur nat, ternyata itu adalah keramik dengan corak anyaman bambu berukuran 33cmx33cm.

Tampilan keramik berwarna cokelat muda itu terlihat netral ketika berpadu dengan elemen dekorasi ruang yang penuh warna. Warna cerah hadir dari bidang tembok di belakang televisi yang dicat warna hijau turqois dan dua bean bag warna kuning dan biru.

Kalau diperhatikan, rumah itu banyak banyak dihiasi dengan warna cokelat pada lantainya. Bukan parquet, melainkan keramik yang menyerupai kayu dengan tekstur, ukuran dan motif berbeda. Mayoritas keramik yang digunakan berukuran 25cmx45cm.

Warna coklat di pilih karena menciptakan suasana hangat dan netral kala dipadukan dengan warna lain. Jika anda melihatnya sekilas, anda pasti tak akan menyangka bahwa penutup lantai berwarna cokelat itu adalah keramik.

Soal penataan interior, Alvin menginginkan layout-nya clean, tidak banyak perabot dan tempelan pajangan. Misalnya, satu lemari digunakan untuk menyimpan dan memajang aksesoris. Tidak banyak lemari yang membuat ruangan menjadi sumpek.

Rumah terang, banyak cahaya, dan interior yang clean, membuat Alvin betah berlama-lama, meskipun berada di rumah singgah.        

 

Sumber majalah rumah

About abaslessy

nandas
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s